been there done that
it was amazing too see what was you were looked like in the past, seringkali.. norak.. menjijikan.
well , memang itu yang terjadi pada masa lalu saya.
saya membaca sebuah tulisan lama saya mengenai sebuah kelompok dalam agama Islam ini, saya ingat waktu itu masih ngaji ke tempat habib-habib dan kiai kalangan NU, dan hal tersebut sangat berpengaruh kemudian pada cara pandang saya terhadap suatu permasalahan. let say, yang disoroti sebenarnya adalah mengenai ketidak adilan daripada suatu permasalahan yang terjadi, tapi menjadi tidak dapat obyektif karena merasa berada pada sisi yang bersebrangan dan merasa juga sebagai orang yang ikut terdzolimi.
Obyektif, satu kata yang sangat mudah diucapkan dan dipahami, tapi kita sama-sama tau bahwa untuk kemudian bersikap sebagaimana kata tersebut bermakna adalah satu hal yang sulit. Sebagai seorang manusia, cara pandang dan kerangka berpikir kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita tahu dan kita yakini, yang mana (menggelikannya) seringkali tercipta karena lingkungan. Maka pertanyaan besarnya adalah, bagaimana obyektif dalam Islam ?. Setelah research yang panjang, kejeglong disana-sini dalam pencarian, saya menemukan bahwa Islam memilliki sumber-sumber hukum yang kita ketahui primernya adalah Quran dan kemudian sunnah (hadis Rosul). Maka inilah timbangan kita, timbangan yang menjadikan seseorang boleh disebut obyektif dalam memandang suatu masalah.
Kita ambil sebuah pandangan yang dulu saya adopsi, Muhammadiyah melarang warga NU untuk melakukan shalawat diiringi terbangan, bayangan saya dulu adalah tidak mengapa shalawatan pakai terbangan toh itu baik. Timbangan saya pada saat itu adalah guru-guru saya yang mengajarkan hal tersebut, anggapan saya adalah mana mungkin guru saya salah. Di sisi lain saya memandang juga bahwa Muhammadiyah tidak konsisten, dengan mengadakan acara menari diiringi musik-musik di pekarangan masjid tempat kami tinggal. Namun, jika kita mengembalikan pada Quran dan Sunnah, maka kita akan menemukan keduanya salah, dan sikap saya itu jadi salah total.Tetangga kami ini membaca shalawat narriyah yang setelah dibahas oleh ulama, ini adalah sebuah shalawat yang mengandung kesyirikan, dan sikap orang yang mengaku Muhammadiyah dan membuat acara di pekarangan masjid adalah tidak perduli terhadap pelanggaran terhadap syariat yang mereka lakukan.
Maka kemudian saya simpulkan bahwa belajar itu sangat penting, dan dengannya kemudian kita mampu menyandakan diri kita kepada dalil sebagaimana yang dimau oleh Allah dan Rosulnya. Barulah seseorang dapat menjadi obyektif,tidak menghukumi dengan dengan nafsunya. Tidak kemudian menjadi memalukan dengan tulisan-tulisa alay menjijikkan dari akal yang tidak mengenal ilmu.
well , memang itu yang terjadi pada masa lalu saya.
saya membaca sebuah tulisan lama saya mengenai sebuah kelompok dalam agama Islam ini, saya ingat waktu itu masih ngaji ke tempat habib-habib dan kiai kalangan NU, dan hal tersebut sangat berpengaruh kemudian pada cara pandang saya terhadap suatu permasalahan. let say, yang disoroti sebenarnya adalah mengenai ketidak adilan daripada suatu permasalahan yang terjadi, tapi menjadi tidak dapat obyektif karena merasa berada pada sisi yang bersebrangan dan merasa juga sebagai orang yang ikut terdzolimi.
Obyektif, satu kata yang sangat mudah diucapkan dan dipahami, tapi kita sama-sama tau bahwa untuk kemudian bersikap sebagaimana kata tersebut bermakna adalah satu hal yang sulit. Sebagai seorang manusia, cara pandang dan kerangka berpikir kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita tahu dan kita yakini, yang mana (menggelikannya) seringkali tercipta karena lingkungan. Maka pertanyaan besarnya adalah, bagaimana obyektif dalam Islam ?. Setelah research yang panjang, kejeglong disana-sini dalam pencarian, saya menemukan bahwa Islam memilliki sumber-sumber hukum yang kita ketahui primernya adalah Quran dan kemudian sunnah (hadis Rosul). Maka inilah timbangan kita, timbangan yang menjadikan seseorang boleh disebut obyektif dalam memandang suatu masalah.
Kita ambil sebuah pandangan yang dulu saya adopsi, Muhammadiyah melarang warga NU untuk melakukan shalawat diiringi terbangan, bayangan saya dulu adalah tidak mengapa shalawatan pakai terbangan toh itu baik. Timbangan saya pada saat itu adalah guru-guru saya yang mengajarkan hal tersebut, anggapan saya adalah mana mungkin guru saya salah. Di sisi lain saya memandang juga bahwa Muhammadiyah tidak konsisten, dengan mengadakan acara menari diiringi musik-musik di pekarangan masjid tempat kami tinggal. Namun, jika kita mengembalikan pada Quran dan Sunnah, maka kita akan menemukan keduanya salah, dan sikap saya itu jadi salah total.Tetangga kami ini membaca shalawat narriyah yang setelah dibahas oleh ulama, ini adalah sebuah shalawat yang mengandung kesyirikan, dan sikap orang yang mengaku Muhammadiyah dan membuat acara di pekarangan masjid adalah tidak perduli terhadap pelanggaran terhadap syariat yang mereka lakukan.
Maka kemudian saya simpulkan bahwa belajar itu sangat penting, dan dengannya kemudian kita mampu menyandakan diri kita kepada dalil sebagaimana yang dimau oleh Allah dan Rosulnya. Barulah seseorang dapat menjadi obyektif,tidak menghukumi dengan dengan nafsunya. Tidak kemudian menjadi memalukan dengan tulisan-tulisa alay menjijikkan dari akal yang tidak mengenal ilmu.
Komentar
Posting Komentar